Bait-bait cerita


.

Ketahuilah, Aku selalu bercerita dengan aksara kata, lalu kujabarkan sebagai kalimat, apapun itu. Walau riang, semua kujelma menjadi bait tak berkelit. Untukmu, untuknya, untuk semua yang mengeja.
Terus menerus, saat fajar, saat siang, saat senja, saat kelam. Tak muncul, aku hanya singgah melepas penat. Kan hilang, "sampai aku tak mengikuti waktu."

Medan, 17 april 2011

Kasih, Aku tlah tiada


.

Maaf kasih, aku ditikam penawar hingga terlelap dalam taburan bunga-bunga anggrek ditaman itu. Untung saja kau tak terhanyut pada galian diujung sana, tempat kita menanam rasa (Kau merangkulku lalu tersenyum memandangi rumput-rumput liar menari kegirangan).
Elok mata menyahut siul pada telaga itu, tapi aku tetap terlelap karena penawar duka.
Kasih, jemarimu lembut mengelus sisa-sisa suka kita. Kau masih saja bersenandung riang meski isak membahana dari relungmu, senyummu semerbak kembang meski kelopak membendung; Aku tlah tiada .

Kasih, Aku menantimu di padang masyar, kelak kita menyahut-Nya. Bawa penawar-penawar itu.

Medan, 16 april 2011


*Sumut pos 30 oktober 2011
 
 
 
 
 

Letih


.

Merasakan angin yg menjadi dingin. Malam yg semakin kelam. Ngantuk yg terantuk-antuk. Hati kian sepi. Ajak aku menjelajah pagi. Hadang aku kantuk. Lelah menari pedih, aku enggan berdansa sisa lusa. Retak hati menjadi-jadi, ajari aku riang biar tak berang.
 Medan, 5 April 2011

Sendiri di pantai


.

terus bertahan pada panas, padahal dingin menunggu disenja kelak. menyeruak angin, hingga sepoinya menyemir semilir angin. hingga sendiri bertahan, padahal butiran pasir abrasi dihantam ganasnya ombak.
aku tak kejam menahan gelisah, tapi anggun ketika tunggal menghantam badai kesendirian. hingga senyum menyungging dibalik lekuk bibir penjaja kata.

Medan, 29 Maret 2011

Harap cemas


.

Kini, asa berkelebat hebat memandang tepat pada halte perjalanan sepi. Sangkaan berbuah manis, kehendak mengecap pahit. Segera menepi bidadari, sambutku riang dengan harap cemas. Lalu, disini kata terangkai indah untukmu berwajah indah. Ntah nanti, sesaat mendarat. Lisan kadang tak bijak memandang peri. Harap cemas terus mendemonstrasi benak. Dimana rangkaian jejak penyair jalanan yang selalu berkolosal dalam jejaring?

Biar harap cemas berkemas barang semalam.

Medan, 25 Maret 2011

salah dan belajar


.

kembali bersimpati pada lalu, memory langkah mengajarkan guna untuk esok, mengalihkan lubang yang menganga waktu itu biar ditimbun sesal. Agar tak binasa saat awal, dibekali bijak sejak dini. karena pepatah bilang, "hanya keledai bodohlah yang memasuki lobang yang sama sampai dua kali." Dulu ibu bernarasi pada episode didikan orang tua, "alami gagal lalu senantiasa bernaung sampai khayat."
kita alam, lalu alami, terus mengalami, berikut pengalaman biar mengamalkan.
medan, 18 maret 2011

Dalam diam


.

dan dalam diam aku mulai berdecak kagum pada senyum, lalu mengembang jadi tawa sampai binasa, tergeletak dilatar hitam seberang batas jalan yang berang karena bising knalpot belah hantu jalanan.

pada diam aku juga bisa berang ke sembarang orang, murka dengan segala macam bahaya, menggertak dengan mata, mencibir dengan bibir, mendengkur dengan hidung.

Medan, 17 maret 2011