Rapat kecil


.

Menguras polemik, mendikte agenda semu, berargumen pasif berkitab anggaran dasar, tak setuju teriak mati.
Interupsi, tak diterima banting kaki kena maki. Ini pergerakan dalam idealisme hakiki. Menjunjung mahasiswa peduli negeri. Tapak korupsi dibekali nanti. Revolusi ato mati?

Aku geli terkadang keki. Dimana intelektual kami, ketika uang jadi sarapan pagi? Aya pulang ke alam idealis, wahai mahasiswa.
Matahari mulai redup, malam segera hadir. Sudahi semua argumen kita, sumpah serapah menanti dari balik beling gelas diberanda sana.

Medan, 27 Januari 2011

 

Asal murka


.

dimana perasaan?
kata-katamu menggertak jiwa, menyontak otak, memijak pitak, lalu duduk bersila mendoa salah.

Medan, 27 Januari 2011

Untuk kekasih


.

aku melukis wajahmu dari kuas dengan cat perasaan, di kanvas penantian, menuangkan imajinasi asa.
menawar suka, mengeten muka dari celah monitor sampai tembus ke akun pribadimu di situs jejaring itu. Aku pun terlena.
lalu bergumam, "apakah kau begitu?". berharap sebaliknya.


Medan, 26 Januari 2011

Gejala III


.

Lekuk cangkir ditabur pekat diseduh panas lalu hitam dalam volume bening. Kelam malam baju hitam.
Hirup lalu sedot. Membaur pemulung waktu dengan pengusaha kata. Rata biar ditata elok, karena malam indah dengan kelam.
Ketika bertemu bintang, Aku tetap menggenggam sang pekat. Karena ia menawan dengan manisnya, memupuk ide biar tambah subur.

Medan, 26 Januari 2011

Gejala II


.

Kini hanya bisa meringkas jalanan lalu, mengumpat, balik berkelana, menggelinding guli-guli rasa.
Lalu menelaah ribuan kata terucap, mengarti jutaan arti dari arti kata, kembali berhenti ketika mereka berjalan kencang.
Ketika mereka berhenti, balik jalan tapi nyendat karena lebam ditonjok malam. Telat, tetap lambat. Sampai kapan menyambut pagi?
Biar esok, aku berhenti. Sebab, kata malam, "Aku tilam". Kata pagi, "Aku rugi". Kata siang, "Aku belang". Kata sore, "Aku kere".
Mulai tak mengerti apa kata mereka yang lain. Alergi suaraku?

Medan, 25 Januari 2011.

Gejala


.

Malam kayak pagi, pagi kayak siang, siang kayak sore, sore kayak malam. Lalu, aku seperti apa?
Terus, aku lurus. Bersahaja pada lekuk daun pucuk perkara. Berteriak, aku akan baik dari buruk kemarin.
Diam, aku buntu. Memetik gundah padahal illahi marah karena nista mengubur suka.
Nangis, aku mundur. Ilalang-ilalang usang tertawa menetas mata dengan darah lalu luka.
Senyum, aku selesai. Teriak lepas diujung gundukan. Terus nisan menancap kaku. Ini akhir gejala.

Medan, 25 Januari 2011

Aku tetap aku


.

Aku bukan malam yang mengganggu kelam, Aku bukan pagi yang mentertawakan pesugihan, Aku bukan siang yang mensialkan periang, Aku bukan sore yang meneriaki hore.

Namun, aku tetap aku, bukan seperti yang di atas.

Medan, 23 Januari 2011