catatan harianku, untukmu


.

Senin : Pagi dikampus itu, kau hadir dengan kerudung hitam dan jaket tutup kepala, aku melukis rona merah di pipiku dari sini. Padahal aku ingin berorasi cinta kepadamu sebelum kau di titik esok. Aku bisa mengawalmu melewati detik-detik akhir sembilan belas

Selasa : kau memulai dua puluhmu. Sedangkan aku mendengkur dan bermunajat dengan catatan harian untukmu.

Rabu dan kamis : yg terlintas di benakku hanya fantasi wajah surgamu, padahal kita tak bersua hari ini.

Jumat : semangat ku bangkit saat aku menjabat tanganmu. Seperti mimpi.

Mencari cinta


.

Ini hari "keempat ratus dua puluh satu", aku dibelai siang dan malam. Puluhan kata cinta fiktif telah aku catat di diary facebook.
Pasukan intelijen aku kerahkan untuk mencari cinta yang hilang. Namun, kasih berkata, "dia (cinta) tlah terkubur diliang kemunafikan".
Faham modern memenjarakan aku dari alam romantisme ini. "Diam dan rasakan kesendirian ini", kata mereka.

....

Esok aku dapat remisi bebas. Meninggalkan penjara kemunafikan karena vonis, "Tak mengerti arti cinta". Kini, keinginan hati mensunting lelembut cinta membatu dalam kalbu.

Sabtu malam sampai minggu sore


.

Seperti kemarin, dialog dengan mata angin menjadi santapan buasku di sabtu malam. Cengkraman purnama tak hadirkan pesona emas, hanya bintang yang riang saat bernostalgia dengan awan hitam malam ini.
Sampai malam diusir matahari, aku hening berias guratan dikening. Jariku kaku tak pernah terbungkus telapak tanganmu. Sorot matamu tak tembus pandangi hatiku saat rasa kian berkecamuk hebat, hingga banjir air mata tak terbendung mengetahui kau setia dengan pangeran dari kotamu.

Minggu.

"Fajar hadir dengan pesona baru", diselimuti awan hitam dan memandikan bumi dari pancuran langit. Tapi, aku tak kebagian itu hingga sumur dihatiku kering dan kemarau panjang.
Sangsakala mulai tertiup dari ubun-ubun, terdengar membahana ke pelosok zaman.
Terik saat itu menemaniku berkelana mengitari putaran jam sampai dia (matahari) parkir di haltenya, dibarat sana.

Tentang hidup


.

Ini untuk kesekian kalinya aku bercerita tentang kau, tentang cintaku yang tetap menyendiri di antara keramaian kota, tentang kehidupan miris para fakir diperempatan sana, tentang para elit politik gedung sana.
Sebenarnya aku ingin bercerita tentang pendidikanku yang rusak, padahal aku berikhtiar dengan segalanya. Namun, aku tak pernah berhasil.
Tentang kehidupanmu juga ingin kuceritakan. Tapi, aku tak mengerti jalannya.
Saat ini, aku mulai hidup dari tulisan-tulisan kecil ditabloid ukm, dari balik kamera, dari ceceran koin lemari kain, dari telepon selular berupa saldo, dari tabuhan perkusi dan dari kiriman orang tua.

Ini Untukmu


.

Sudah sekian lama aku tak bertemu jenuh. Padahal, entah berapa juta menit aku menunggu simpul kalian terlepas.
Aku ingin mengukir tinta emas dengan sepenggal kata cinta diatas kertas putihmu dari dulu. Dari maret 2009 silam, saat kita berpapasan dikantin kampus itu.
Hingga kering, gurita pun ku jaring dari laut sana sebagai pengganti tinta emas itu. Saat kau meneteskan cairan putih penutup catatanku sampai hilang tak terbaca, aku tetap berinjak bumi dengan maksud mengisi relung hatimu.

Puisi nyata untuk seorang terkasih


.

Hanya butiran pasir putih tersapu ombak yang aku lihat sore tadi, di celah matahari senja. Asa ku berkecimpung dengan kumpulan suka dan duka, entah berapa sunggingan senyum ku tolehkan hari ini hingga bulan hadir diawal. Kau bersama ria mu bersenandung riang membahana kepenjuru relung hatiku seiring awan hitam menjelma ufuk senja.
Kala sore mulai bersorak menyambut paras senyummu, matahari tak sempat parkir dibarat, hingga dengan lugasnya mengejar pagi agar sempat bernostalgia dengan embun.
Diam dengan pikiran kelam, aku berangan menghadiahkan hujan kepadamu. Kelak dapat menyuburkan alam cinta nyataku untuk untaian kasih hatimu.

merpati ombak


.

Dini hari ini,

aku menggiring perasaan
dengan laju sepeda kumbang yang dikayuh kakek ku
puluhan tahun lalu.
Berbekal nurani cinta,
aku mulai menatap gundukan kecil jalan itu,
merasakan denyut nadimu dari imajinasi
yang kukirim lewat merpati facebook.
Tapi, lengah tak berkesudahan menghampiri itu.
Hingga pagi ini aku menunggu merpati itu kembali kesarang perasaan
yang aku dirikan pertengahan maret dua ribu sembilan silam.
Sampai fajar menyingsing di ufuk timur,
rasa kantukku tak kunjung hadir
setelah dihantam ombak cinta yang menenggelamkan hasratku
untuk mencari pantai pengganti berlabuh perahu hati ini.