Harap cemas


.

Kini, asa berkelebat hebat memandang tepat pada halte perjalanan sepi. Sangkaan berbuah manis, kehendak mengecap pahit. Segera menepi bidadari, sambutku riang dengan harap cemas. Lalu, disini kata terangkai indah untukmu berwajah indah. Ntah nanti, sesaat mendarat. Lisan kadang tak bijak memandang peri. Harap cemas terus mendemonstrasi benak. Dimana rangkaian jejak penyair jalanan yang selalu berkolosal dalam jejaring?

Biar harap cemas berkemas barang semalam.

Medan, 25 Maret 2011

salah dan belajar


.

kembali bersimpati pada lalu, memory langkah mengajarkan guna untuk esok, mengalihkan lubang yang menganga waktu itu biar ditimbun sesal. Agar tak binasa saat awal, dibekali bijak sejak dini. karena pepatah bilang, "hanya keledai bodohlah yang memasuki lobang yang sama sampai dua kali." Dulu ibu bernarasi pada episode didikan orang tua, "alami gagal lalu senantiasa bernaung sampai khayat."
kita alam, lalu alami, terus mengalami, berikut pengalaman biar mengamalkan.
medan, 18 maret 2011

Dalam diam


.

dan dalam diam aku mulai berdecak kagum pada senyum, lalu mengembang jadi tawa sampai binasa, tergeletak dilatar hitam seberang batas jalan yang berang karena bising knalpot belah hantu jalanan.

pada diam aku juga bisa berang ke sembarang orang, murka dengan segala macam bahaya, menggertak dengan mata, mencibir dengan bibir, mendengkur dengan hidung.

Medan, 17 maret 2011

Impi manusia dan evolusinya


.

aku ingin kembali menjadi tanah, lalu disulap saripati biar disimpan ditempat kokoh sebelum jadi haima. mengepal di rangkain sebelum dibungkus otot lalu sempurna setelah ditiupkan jiwa.

aku hendak merevolusi malam agar tetap diliput bulan dan digemari bintang biar lelah tak membiakkan sakit.
terus berencana, padahal terjadi jika Dia berkehendak.

medan, 17 maret 2011

Adzan Maghrib


.

Senja muncul lalu bersahutan lewat pengeras di puncak menara sana, bedug mengawalinya. Menggiring bocah bocah. Muda mudi kemana?

Medan, Maret 2011

PDKT


.

Sampai sekarang, aku baru menyentuh permukaan hatimu.

Medan, Maret 2011

Tak selalu kekal


.

Kita tak pernah seindah mawar saat mekar, kenapa kita tak setia seperti siang dengan terang, malam dengan hitam, merah dengan darah, air dengan cair?
Kerikil-kerikil hulu membeton tanpa pasir, itu tak liat. Ajarkan aku menyapu badai tanpa tangis.
Aekkanopan, Maret 2011