Mengubur duka


.

Sesegera mungkin kuhadiahkan senyum dalam kertas melamin merah dan kubalut lembut dengan pita putih, baru saja terpikir tadi, jangan sampai alpa mengganggu kita. Esok kan kulahirkan suka dari janin pikiran. Duka kan kusemayamkan esok di pemakaman pesimis dan kucor dengan adukan pasir semen agar membeton d...an liat lalu mematokkan nisan agar terkenang

Medan, oktober 2010

Kala rintik pagi di Medan


.

Berkomposer riang lalu terjal dimakan badai. Dentingdenting riaknya berkejaran perkusi diatap seng memadukannya hingga memantik luka menyayat fajar, mengeten dari celah kelabunya awan. Pagi ini anugerah. Silsilah lelembutnya mengantukkan ubunubun kembali menghanyutkan mata di sungai mimpi. Kela...karkelakar tak menjulang, bahkan terhimpit di temaram. Seketika hening, Medan menggelayut padahal resepsi bertaburan dijantungnya. Sesak masih mengidap. Tak ingin terdiaknosa sedih, padahal ini anugerah. Terimalah Medan diguyur rintik pagi. 

Medan, oktober 2010

Dilema Cerita


.

Rasanya, petak kepala karena malunya, dindingdinding kusam berbisik mencela, lantailantai tak ketinggalan, tertawa sinis berpola simetris, lalu tempias datang berjingkrak sambil menenteng segitiga, seperti musiman. terus sembunyi dibawah kerucut dan menghempas badan di kasur persegipanjang hasil dari pohon randu. Menimpa bantal, meraih guling; padahal bendabenda itu jenuh pada tuannya. Dan esok, masih harus menantang surya, belulang nyeri bukan takut. Sesak juga merepet pada kulit karena tak serius membalut daging. Itupun aku masih malu. Adakah lusa kita bercerita lagi?

Medan, Oktober 2010

Minder


.

Sekarang, aku menghirup semerbak perih dan terdiagnosa minder, obatnya mungkin tentram. Diam terpekur dipenghujung malam. Cepatlah jangan sampai aku mati perasaan.

Medan, Oktober 2010

Gugatan


.

Meledak dahsyat, berserakan, lalu mengecil jadi puingpuing dijalanan bukan jalinan. Terinjak dan penyet kayak lemet lalu disantap binatangbinatang rakus disudut sana. Kemarin malam, tak seperti ini. Buntu ditekan malam lalu basah dijatuhin uap alam, tertatih lewati perasaan dengan gundah yang menginang pundak; Terasa berat. Bagaimana dengan kita, asyik dengan hiburan. Bui tentram terkunci rapat. Suar tlah redup dimakan konslet hubungan. Bukan aku jenuh, tapi masa depan kita tak terkonsep, aku sembunyi dibalik jam dinding. 
 
Medan, Oktober 2010

Senyuman pagi


.

Berdentum, merapatkan bibir hingga melubangi pipi, bangun dengan cerah dari surya jadi sarapan pagi. Menyambet wajah dengan air lalu membusanya lalu terusap. Menyeduh hitam mengaduk butir, teguk, lalu batuk. Masih berdentum, merapatkan bibir hingga melubangi pipi. Juga cerah mempetakan jalan hari agar sesat tak kunjungi. Merapikan jaring, menjerat masalah, menikam gundah dan tersenyum. 

Medan, Oktober 2010

Bandang


.

Sumringah, duduk dan menghayal sejenak. Tersedu sedan ketika dilihatnya belantara berubah jadi kota, banjir air mata, mandi peluh, berenang lumpur seketika batang menggulung badan, tembok dan anakanak batangnya. Mengais apasaja yang menyenggol, muatkan ke muara penampungan sana. Jeritanjeritan pun ditegurnya agar diam dengan linangan. Kemudian beku, seakanakan ini bukan garapan; ini bandang.

Medan, Oktober 2010