Mati Muda I


.

Berusaha untuk mati muda, sebab semakin lama hidup tak dapat mengefesiensikan ajal, amal dan dosa. Mulai melengkapi hari dengan aneka ibadah. Dari kegagalan, Aku benar ingin mati muda. Bukan frustasi. Ini legislasi dari semua data-data keberuntungan dan efek dari pesakitan sanjungan. Beranikah jika kita di verifikasi amalannya sebelum Izrail menarik rupa-rupa nafas dan asa-asa kebahagiaan? Kita tak berdosa (asumsi pribadi).Lalu, Aku menjadi phobia tua. Mati muda mendoktrinku untuk segera menghabiskan umur. Tapi bukan dengan cara menyakiti diri sendiri. Inkonsistensi dengan cita-cita waktu Aku kecil dulu. Sebab, sekarang semua tlah berubah seiring musim yg anomali. Cita-cita itu, "MATI MUDA". Berubahlah semua bayang semu. Aku mencoba hilang sbelum aku merasakan sakitnya kehilangan, karena aku peka akan frustasi. Lantaran trus bergeming untuk mati muda, Aku lupa kalau "Aku benar-benar sudah mati muda". Tapi, ini urusan perspektif. Aku sosialisme bukan kapitalis. Mati muda adalah sebuah fenomena & ketepatan putusan Tuhan. Bukan keegoisan malaikat izrail selaku juru sita nyawa & itu tetap hak preogratif Tuhan.

Medan, 7 Mei 2011

Cuma satu


.

Dan sebuah anonim tidak surut di muara kalimat, karena aku satu bukan dua seperti sinonim. Tetapi ombak menghantamku menjadi antonim.  Kita standarisasi dari kelengkapan ciptaan, tak memoleskan modifikasi (bertahan karena titah-Nya). Dan, kita akan memesona dengan koreographi.
Medan, 7 April 2011

GALAU


.

Berteman dengan bintang, bulan dan angin dingin, selalu tak terpisahkan dengan Galau. Bersahaja dengan lika-liku jalanan, menyelami labirin masa lalu, menari dengan mimpi-mimpi, menadakan masalah. Memparodikan tikaman kata, didikte ketidakpastian karakter-karakter ilmu. Ajak Aku berlayar dilorong waktu biar mengulang salah. Memutihkan hitam-hitam, memerahkan darah biar merekah. Doktrin aku dengan kejahatan, agar amal selalu membenak. Sekarang malam atau pagi? (Jingga terus mengintip lewat celah ditimur sana). Menduga-duga lubang di trotoar, menjejal kertas buram bekas lembar jawaban, "biar pintar". Sesekali terseok gundah. Ada kata malam, "kami tetap kelam".
Medan, 29 April 2011

SEPASANG MATA dan MALAM


.

Sepasang mata bekelana, padahal malam tlah habis. Katanya, malam punya taman, siang punya bising. Sepasang mata tamasya malam, dipandu redup terang. Kupu-kupu biangnya (indahnya berladang pada bara). Sepasang mata berjalan malam, menyusuri trotoar hitam putih. Bilangnya, "ini cara melukis bayangan". Sepasang mata mengepul asap, berjejer tegak sesekali melambai tangan sambil mengobral. Tega nian kata jalang.Sepasang mata enggan terbenam saat malam.

Medan, 26 April 2011

Fleksibel


.

Aku bisa berupa kaca yg berubah beling penyayat, Aku juga bisa berupa hujan yg berubah jadi bah, Aku juga bisa berupa angin yg semakin dingin, Aku juga bisa berupa surya yg menghangatkan, Aku juga bisa berupa batu yg membatasi, Aku juga bisa berupa atap.
Ketahuilah, Aku bukan malaikat.

Medan, 23 April 2011

Cemberut


.

Aku dipaksa menyungging pelupuk bibir saat duka, disuguhin kelakar-kelakar ringan masih tetap menopang dagu, melipat tangan, mengerut dahi.
Medan, 22 April 2011

Lalu, apa itu hari?


.

Akhirnya berubah menjadi malapetaka pada siang, pada tandus sepi di taman bara, Kau menjelma ufuk-ufuk jingga dibarat sana, mengharap orang mengabadikan serongmu.
Mendinginkan angin, menenggelamkan terang, menceraikan geliat-geliat raga agar tenang menikmati perantauanmu. Sebaliknya malam, Kau menyelimuti surya biar tak bias, biar kau dipuja insan (menyuap dengan rupa-rupa taman langit). Padahal awak bumi menunggu pagi. Kami ingin merangkum terang dan menikmati malam.
Lalu, apa itu hari?

Medan, 20 April 2011