No Comments
Dadar telur gosong
.
Menggoseng pelicin, memercikkan api terus menerawang sendok dan mematahkannya tepat ditengah. Mengaduknya kembang, meratakan diwajan panas itu. Sedikit adonannya dihiasi mahkota berambang sampai pedasnya rawit. Renyahnya tak kesampaian, gosong melanda.
Hatiku rusuh
.
ledakan ini yang menghancurkanku
tapi aku selalu hidup dengan darah
angin puting beliung itu pula yang melemparkan tubuhku
tapi aku selalu bernafas dengan hawa terindah
masih tersisa waktu luas di gurun pasir itu
gersangnya yang membawaku pada arti panas
sesejuk hawa pantai dengan laut cerah
kemanakah aku merintih
kemana aku harus berlari
terusik akan gigitan penghuni malam
sakit tertusuk sinaran bulan
biarkan ku berpikir rusuh
seperti aku yang terhakimi
berteriak akan keadilan hidupku
berharap esok aku tersenyum bersama pagi indah
Oleh : Indah Prayodya Sihombing
tapi aku selalu hidup dengan darah
angin puting beliung itu pula yang melemparkan tubuhku
tapi aku selalu bernafas dengan hawa terindah
masih tersisa waktu luas di gurun pasir itu
gersangnya yang membawaku pada arti panas
sesejuk hawa pantai dengan laut cerah
kemanakah aku merintih
kemana aku harus berlari
terusik akan gigitan penghuni malam
sakit tertusuk sinaran bulan
biarkan ku berpikir rusuh
seperti aku yang terhakimi
berteriak akan keadilan hidupku
berharap esok aku tersenyum bersama pagi indah
Oleh : Indah Prayodya Sihombing
Detik yang memuncak
.
mengawali alkisah deretan kepingan ini
sesekali nada nada yang indah seperti kutakkan bisa
takkan pernah jauh, sepanjang hidup dan usiaku.
dalam kegundahan dan teriakan maut
aku selami kerusuhan itu, dan karena ku sanggup
maka keraguan turut berkata, tinggalkan saja aku pada waktu.
tetapi hujan yang turun kemaren, seolah membanjiriku, dan akupun kembali.
tertatih aku akan kejujuranku ini
meski merindu setengah hidupku
seolah ingin menyudahi perih dalam kaleng hidup yang usam ini
kupeluk erat dekapan dan bisikan mereka, sahabat.
agar esok aku tak berhenti pada halte sepi
masih di sini berlafaz ya sudahlah
menghembuskan hawa nafas kesetiaan hidupku
seketika sujud dan doa,mengumpulkan kekuatanku
bertempur pada dengungan suara itu
sudahi segera bahaya ini.
Oleh : Indah Prayodya Sihombing
Selembar kertas suci
.
untuk mengembalikan hidupku lampau
tapi dia masih saja hanya tersenyum
tak terusik dan tak sedih
kubiarkan pula petir itu berteriak di telingaku
seperti menembakkan peluru sakit dan perih
hanya ada selembar kertas yang suci
untuk kurakit dan kuukir hati ini
semenjak dan saat ini
kuingin serangkai nada menyanyikan untukku
lagu rangkaian angin angin malam
dan bulan akan bersuara merdu menggema
bagaimana lagi aku, dan bagaimana pula aku
tak terjerat dalam kebencian waktu
seperti aku melayang dalam kelamnya rasa
tak terhingga oleh kegagalan
Oleh : Indah Prayodya Sihombin
Satu wajah, sebuah nama
.
riang menyapa mentari
kenangan lama tersudut dalam memori jiwa
teruntuk kata dan rasa
masih tersisa jutaan makna indah
kemarin dan sekarang
hanya ilalang yang gersang
hanya gunung yang memuncak letusan
hanya ada banyak bencana
tapi milyaran gudang kata
masih setia merindukan
merangkai makna
lebih indah lukisan alam
seindah wajah yang tertawa
tersenyum pada lautan nan anggun
berwajah rupa seperti dia
biarkan aku tetap duduk diam dengan waktu
menjunjung rindu yang menemaniku
hembuskan seutas kata
sebuah wajah dan nama
Oleh : Indah Prayodya Sihombing
Pasrah
.
lari jauh duduk bersila
menepikan ruang jiwa
menitip rasa hasrat menuai arah
kelamnya waktu tak mengusik detik
melewati ruasnya hari
kemana suara bisikan yang kemaren
masih lekat membawa roh bayangan cinta
sekuntum seutas jari menunjuk
melengketkan sanubari indah terbang melayang
seketika kereta melaju kencang
tak elok bila tertinggalkan
kubiarkan merana mengunjungi
kuletakkan perih menggerogoti
merasakan gelagat menghina kecewa
teruntuk surat yang datang tak bertuan
Oleh : Indah Prayodya Siohombing
Pejuang cinta
.
simponi mengajakku menyanyi indah
terlepas bebas berlari terhenti sang bintang
meraut kikisan langit, mengoyak letusan api
terindah untuk pelangi
rentetat kehangatan, menyanjung senyuman bulan
mencapai keagungan, melampaui puncak teduhan
corak terobek makna, jingga mengubah warna
ilalang berwarna hijau
duri mencuri perih
menghapus usapan masa
rupanya tak hilang mengendap
seperti rakit berbentuk apa
kekhusyukan membaca doa.
senandung cinta untuk anda.
si pejuang cinta.
Oleh : Indah Prayodya Sihombing







