Dadar telur gosong


.

Menggoseng pelicin, memercikkan api terus menerawang sendok dan mematahkannya tepat ditengah. Mengaduknya kembang, meratakan diwajan panas itu. Sedikit adonannya dihiasi mahkota berambang sampai pedasnya rawit. Renyahnya tak kesampaian, gosong melanda.

Medan, oktober 2010

Hatiku rusuh


.

ledakan ini yang menghancurkanku
tapi aku selalu hidup dengan darah
angin puting beliung itu pula yang melemparkan tubuhku
tapi aku selalu bernafas dengan hawa terindah

masih tersisa waktu luas di gurun pasir itu
gersangnya yang membawaku pada arti panas
sesejuk hawa pantai dengan laut cerah

kemanakah aku merintih
kemana aku harus berlari
terusik akan gigitan penghuni malam
sakit tertusuk sinaran bulan

biarkan ku berpikir  rusuh
seperti aku yang terhakimi
berteriak akan keadilan hidupku
berharap esok aku tersenyum bersama pagi indah

Oleh : Indah Prayodya Sihombing

Detik yang memuncak


.

kumulai detik detik, karena aku suka
mengawali alkisah deretan kepingan ini
sesekali  nada nada yang indah seperti kutakkan bisa
takkan pernah jauh, sepanjang hidup dan usiaku.

dalam kegundahan dan teriakan maut
aku selami kerusuhan itu, dan  karena ku sanggup
maka keraguan turut berkata, tinggalkan saja aku pada waktu.
tetapi hujan yang turun kemaren, seolah membanjiriku, dan akupun kembali.

tertatih aku akan kejujuranku ini
meski merindu setengah hidupku
seolah ingin menyudahi perih dalam kaleng hidup yang usam ini
kupeluk erat dekapan dan bisikan mereka, sahabat.
agar esok aku tak berhenti pada halte sepi

masih di sini berlafaz ya sudahlah
menghembuskan hawa nafas kesetiaan hidupku
seketika sujud dan doa,mengumpulkan kekuatanku
bertempur pada dengungan suara itu
sudahi segera bahaya ini.

Oleh : Indah Prayodya Sihombing

Selembar kertas suci


.

aku minta dan mohon pada waktu
untuk mengembalikan hidupku lampau
tapi dia masih saja hanya tersenyum
tak terusik dan tak sedih

kubiarkan pula petir itu berteriak di telingaku
seperti menembakkan peluru sakit dan perih
hanya ada selembar kertas yang suci
untuk kurakit dan kuukir hati ini

semenjak dan saat ini
kuingin serangkai nada menyanyikan untukku
lagu rangkaian angin angin malam
dan bulan akan bersuara merdu menggema

bagaimana lagi aku, dan bagaimana pula aku
tak terjerat dalam kebencian waktu
seperti aku melayang dalam kelamnya rasa
tak terhingga oleh kegagalan

Oleh : Indah Prayodya Sihombin

Satu wajah, sebuah nama


.

untuk sebuah wajah dan nama
riang menyapa mentari
kenangan lama tersudut dalam memori jiwa
teruntuk kata dan rasa
masih tersisa jutaan makna indah

kemarin dan sekarang
hanya ilalang yang gersang
hanya gunung yang memuncak letusan
hanya ada banyak bencana
tapi milyaran gudang kata
masih setia merindukan
merangkai makna

lebih indah lukisan alam
seindah wajah yang tertawa
tersenyum pada lautan nan anggun
berwajah rupa seperti dia

biarkan aku tetap duduk diam dengan waktu
menjunjung rindu yang menemaniku
hembuskan seutas kata
sebuah wajah dan nama

Oleh : Indah Prayodya Sihombing

Pasrah


.

terhimpit dalam sudut genggaman
lari jauh duduk bersila
menepikan ruang jiwa
menitip rasa hasrat menuai arah

kelamnya waktu tak mengusik detik
melewati ruasnya hari
kemana suara bisikan yang kemaren
masih lekat membawa roh bayangan cinta

sekuntum seutas jari menunjuk
melengketkan sanubari indah terbang melayang
seketika kereta melaju kencang
tak elok bila tertinggalkan

kubiarkan merana mengunjungi
kuletakkan perih menggerogoti
merasakan gelagat menghina kecewa
teruntuk surat yang datang tak bertuan

Oleh : Indah Prayodya Siohombing


Pejuang cinta


.

simponi mengajakku menyanyi indah
terlepas bebas berlari terhenti sang bintang
meraut kikisan langit, mengoyak letusan api
terindah untuk pelangi

rentetat kehangatan, menyanjung senyuman bulan
mencapai keagungan, melampaui puncak teduhan
corak terobek makna, jingga mengubah warna

ilalang berwarna hijau
duri mencuri perih
menghapus usapan masa
rupanya tak hilang mengendap

seperti rakit berbentuk apa
kekhusyukan membaca doa.
senandung cinta untuk anda.
si pejuang cinta.

Oleh : Indah Prayodya Sihombing