Dengan rasa


.

Aku datang bukan karena kekosongan.
Tapi, dengan genggaman asa dan sekelumit rasa,

hendak memperbaiki hati yang dulu saling tersakiti.

Dikte ilalang


.

Telah reda gejolak hati

yang kian remuk tertindih emosi,
karena ucapan kasar tak selembut bahasa kalbu.
Padahal rumput ilalang tlah mendikteku
bagaimana menikmati angin siang saat panas menyerangnya,
mereka bergoyang mengikuti hembusannya.
Tetap saja aku mendengkur
saat tidur tak menjadi aktivitasku.

Pertempuran senja


.

Kegelisahan menerkam senjaku.

Padahal, kemarin sampai pagi tadi kau tlah puas menunggangi perasaanku,
sampai ku tersungkur dalam duka sesaat.
Malamku pun tak luput dari serangan roketmu.

Kapan putaran rodamu beranjak pergi dari ruang dibalik dinding igaku?

...

Titik puncak jenuhku mulai hadir
dengan bala tentaranya
mengusir kegelisahan yang kau jajah belakangan hari ini.

Kehadiran pagi


.

Embun bersolek merdu,

saat subuh mulai menyisir peraduan sang surya
yang hendak bercokol ditahtanya
setelah letih mengitari bumi bagian tetangga.
Kumandang adzan membahana merdu,
memanggil insan-insan untuk mensyukuri nikmat-Nya.
Deru mesin kendaraan bersahutan dari depan pagar sana.
Ayam pun tak mau dikata pecundang.
Sejak jarum jam singgah di angka tiga, mereka berkokok riang.

Cemas


.

Berkutat dengan putaran detik,

menanti jawaban perasaanmu dengan asa cemas.
Dentuman asa bercampur rasa
kini berkomposer ria dalam hati,
nyaris runtuh panggung penantian ini.
Namun, cahaya ronamu tak pudar
dengan libasan jarum waktu dibenakku.

Kepastianmu tak menyetujui
bergandeng dengan tulusmu
mendampingi hariku dengan selular kita.

Tlah banyak korban perasaan,
hingga aku mengklipingnya dengan instrumen untuk bukti nanti.
Pekan depan, hendak ku audit seluruh perasaanmu tentangku
agar kau tak kuvonis "korupsi hati".

Surat asa


.

Kini, lunglai dan dilema memblokir jalanku.
Perasaan selalu berboncengan dengan duka nestapa
yang menjamur lewat kendaraan tuanya
menyapa seluruh prasangka buruk,
sampai menubruk tembok kesabaranku.
Kata yang kurancang belum tersirat seluruhnya.
Selebihnya, masih tersurat dirubrik situs jejaring sosial.
Niat tulusku menyuntingmu sebagai penghuni relung hatiku
masih menginjak-injak bumi,
padahal hati tlah berorasi hingga remuk
pagar asa menahan gejolak ini.

Hati dan air


.

Tlah lebih dari "empat ratus dua puluh lima hari"
aku merekam jejak kesendirian
lewat trotoar-trotoar hitam putih ditepi jalan.
Dan Saat, Menit ke "tiga puluh dua" di "dua belas april dua ribu sepuluh"
aku berhenti,
menyusun aksara dan menghardikmu
untuk ikut memahat nama dibatu hati
yang pernah membeku dan kita berikrar
"ikut aliran air".