Halilintar asa


.

Dan rintik-rintik membasahi tanah-tanah yang ber-asa, Waduk-waduk penuh, kodok-kodok riang. Namun insan tak pernah riuh karena rasa binasa oleh gelegar halilintar dan itu berkecamuk dikalbu.
Medan, September 2011

Terlalu meng-Analisa


.

Seharusnya, tak ku untai kata-kata manis sebagai penawar dari sepi-sepimu dan aku jadi begini, menahan berkeping-keping perih dari runtuhnya gletser hati. Itupun aku tak kecewa, karena aku mengutuk diri atas semua analisa miring tentang pertalian esok-esok jika terikat.
Medan, September 2011

Rekaman katamu


.

Lantunan kata-kata indah itu kurekam dalam kaset baru dalam pikiran. Kapanpun asa bergejolak, kan kuputar; biar tenang.
Medan, September 2011

Bumerang rasa


.

Sejak dulu sampai sekarang, aku masih mengais rindu dari puing-puing pertemanan. Rindu dan rasa itu bak bumerang, dan aku tak ingin terbunuh.
Medan, September 2011

Rasa dan asa


.

Dan aku kian mudah bercahaya dengan keraguan ketika kau meredup. Dan aku juga menjamur dengan kabut yang tanpa embun. Rasa dan asa akan kekal.
Medan, September 2011

Kau masih saja tertawa


.

Setelah kau ajak aku menikam matahari, apalagi yg kan kau buat besok denganku? Menggelitiki bulan supaya tak benderang? Atau kita menghajar bintang biar tak gemintang? Malamku remuk, jantungku ancang-ancang berhenti dan kau masih saja tertawa. Aku ragu untuk jemu, karena ada barisan riang. Aku malu melarang tawamu, karena aku benar-benar peragu. Kata-kata diamku tak kau dengar, renyah tawamu masih saja berdendang. Dan akupun meleburkan gelengan dngan sandi wajah; kau terbahak.
 Medan, September 2011
 

Masih untuk malam


.

Semua yang akan kukatakan masih teruntuk malam (kekasih setiaku). Adakah sangkaannya tentang melempemnya semangat-semangat ketika rintik-rintik gaduh? Dan aku masih menyanjungnya dengan kata-kata, belum dengan pengorbanan apapun, namun itu tulus.
Medan, September 2011