Ikrarku untuk seorang wanita


.

*Untuk ibu dan gadis itu.

Tangan terlalu berat berlaku kasar pada wanita yg berpasal denganku. Sebab mereka kaum Ibuku, yang dengan meregang nyawa, menahan dahaga, bersimpuh darah menyempurnakanku ke dunia. Jika itu terjadi, Aku menyakiti Ibu.

Medan, Juli 2011

Jurus-an


.

Semua awan semu akan mengahantui segala kekeliruan angin yang berangin ke penjuru arah. Dengan jurus-an berusaha menjadi bayangan yg selalu setia mengikuti jalanmu, senantiasa menemani dan bernaung bersama dalam suasana yang anomali.
Medan, Juli 2011

Masih yang ber kerudung


.

Dan khayalan yang memajemukkan titianku sebagai hamba tak memudarkan rasa cinta yang berpola simetris bersujud alam kepada wanita berbalut kerudung itu.
Medan, Juli 2011

Semua mudah jika ingin.


.

Jika kau ingin, kita bisa saja merubah duri menjadi mawar, kita bisa menyulap banjir menjadi riak kecil yang berarak mengikuti lekuk batu, kita bisa menyulap amarah menjadi senyuman yang memikat hati.
Medan, Juli 2011

Bosan


.

Katakan pada rembulan, "aku sering bertingkah selayaknya matahari saat dia berkuasa". Sampaikan juga, "aku bosan dengan segala rutinitas".
Medan, Juli 2011

Detik mengusil, Aku masih menunggu


.

Untuk waktu, jangan usik aku dengan godaan detik-detik seksimu. Aku masih ingin berkutat pada kesendirian karena wanita solehah itu masih disana, belum menemukan secuil hatiku yang tlah lama menabalkan namanya.
Medan, Juli 2011

Sandi untuk; Gadis Indah


.

Untuk seorang dara di seberang pulau sana, Aku mengagumimu karena celotehan-celotehan riangmu ketika kecil dulu, ketika kita duduk di kursi kayu mengahadap papan hitam. Dan sekarang kau begitu anggun dengan rona solehah. Tapi, kurasa kau tak mengerti sandi rasa.
Seakan, cerita-cerita usang itu tak lebih hanya kotoran-kotoran luka yang bersemayam bersama waktu. Tanpa pamrih menyapaku hingga secara diam menancapkan belati pada satu; gadis indah.
Medan, Juli 2011