Mendekati Mati; Karena Illahi


.

Untuk sebuah masa, Aku bersedekap penuh doa; karena Illahi.
Untuk takdir, Aku mengadu nasib penuh ikhtiar; karena Illahi.
Untuk hidup, Aku mnjaja bakat; krena Illahi.
Untuk bangun, Aku harus tidur; karena Illahi.
Untuk azal, Aku berbekal amal; karena Illahi.
Lalu, seiring bulan benderang, bintang gemintang pada malam. Aku masih bersimpuh pada-Nya, memohon ridho dan ampunan-Nya.
Karena smua adalah ciptaan-Nya.
Walau hina, nista dan tercela, Aku masih berharap ada keabadian ketika kafan membalut, ketika tandu keranda, ketika nisan untuk kenang,
ketika amalan terputus kecuali tiga, dan ketika mereka bermunazat untukku. Aku mendatangi azal.
 Medan, Juni 2011

masih kotor


.

Aku masih bersahutan dengan diam, karena paraunya hidup tak tergenggam. Jangan sentuh aku dengan posesif. Aku belum mampu mengangkangi amal; masih kotor.
Medan, Juni 2011

Pacarku; MALAM


.

ternyata malam berisyarat lembut. bercerita lewat kelam, sesekali dengan embunnya mengelus lembut. aku hanyut dengan buaian malam.
Medan, Juni 2011

Waktu


.

Beginilah waktu. Terlalu cepat ketika kita tak inginkan kehadirannya. Tapi, terlalu lama ketika kita menginginkannya. Ada apa dengan waktu?
Terlalu arogan untuk sebuah kadar. Sebuah saat yang tak bersiasat. Padahal metamorfosis juga butuh tahap. Tapi, waktu tidak.
 Medan, Juni 2011

Melepas Mati Muda


.

Semua keinginanku untuk MATI MUDA harus di simpan dulu. Sekarang Aku berusaha mengubah Indonesia dengan tulisan, dengan visual dan apapun itu.
Karena Aku bukan "PECUN-DANG", meninggalkan masalah dengan masalah. Aku masih ingin berjalan di bawah terik, mengais tumpukan sampah lalu menulisnya dengan tatapan lapar. Dari sisa-sisa rezeki, Kubangun pondasi penerus bangsa, biar tak rapuh dimakan rayap-rayap korupsi. Tulisan-tulisan adalah mimpi dan citaku.
Medan, Mei 2011

Testimoni hari


.

Testimoni pagi : 
Aku terkubur luka kemarin. Masih membekas, tetes lilin yg kau curahkan sore itu.
Testimoni siang : 
sampai-sampai, peluh pun kau santap sebagai penawar anomali cuaca; guntur terbahak-bahak sampai meludah hujan.

Medan, Mei 2011
 

Karena sepi


.

untuk semua kekeliruan hati, ajak aku berdansa dengan alunan gemercik embun karena di angkasa bulan tlah memeluk bintang hingga terang, patahkan ranting-ranting kelam biar tak berbuah masalah bagi para peneduh. Ilalang ikut bergoyang karena dentuman binatang-binatang malam bersahutan.
Medan, Mei 2011