Hadir di luangmu


.

Lihatlah, matahari bercokol pada malam-malamku, sesaat lagi kita tiada dan aku masih tak sanggup berlisan tentang itu (tentang asaku yang sejak di kursi kayu itu kurasakan), aku masih hadir diantara waktu-waktu luangmu sampai rintik-rintik basahi tidurku; kau masih hatiku.
Medan, September 2011

Kata angin


.

Lembaran ragu menitipkan pesan untuk berhenti bermain dengan asa, hardikan masa lalu untuk menjadi ajaran sering kali memukul mimpi-mimpi, "tunggulah sesukamu", kata angin.
 Medan, September 2011

Karena gambar


.

jejeran gambar-gambar itu menyempitkan degupan jantungku, sejak dulu sampai sekarang aku akan berkata "rindu itu adalah sebuah keindahan".

Medan, September 2011

Hal indah


.

Dan segala hal tentang ke-(Indah)-an hanya bersemayam tertata pada rona wajahnya saat tersenyum, manis dan sedikit membentur hati sampai jantung berdegup riang sebelum memujanya. Engkau cahaya dalam kepura-puraan memandang sisi pertemanan. Semoga kau merasakan bahasa kalbu dalam bisu.
Medan, September 2011

Aku dan mendung


.

Awan-awan hitam itu meneduhkan, semilir anginnya mendamaikan. Setidaknya hujannya tak membiarkan retak tanah bersemayam. Seperti itulah; asa-ku.

Medan, September 2011

Kalah


.

Dan aku meringis karena sabetan kerikil-kerikil kata dari mereka para pejuang konvensional, lukanya menusuk. Hingga itu aku enggan bercerita lagi.
Medan, September 2011

*Sumut pos 30 Oktober 2011
  

Binasa karena Tak biasa


.

Akhirnya, semua binasa karena tak biasa meng-asa, sampai rasa tenggelam dalam miniatur-miniatur kehidupan.
Medan, September 2011